HPING3 LAB
SIMULATOR PACKET CRAFTING KALI LINUX - KIRIM PAKET BUATAN KE VIRTUAL LAB 192.168.10.0/24
PACKET CRAFTING
PANEL MISI
LANGKAH DICEK OTOMATIS SAAT KAMU MENGETIK
LOG OBSERVASI
SETIAP AKSI FLOOD/SPOOF DICATAT DENGAN ANOTASI
DAFTAR MISI
8 MISI - TOTAL 480 XP. ALUR: PROBE -> PEMETAAN -> SPOOFING -> DRILL DoS (LAB SENDIRI).
KUIS HPING3
10 SOAL ACAK - 15 DETIK PER SOAL - TOMBOL 1-4 UNTUK MENJAWAB
MATERI PACKET CRAFTING
8 MODUL - DARI FILOSOFI CRAFTING SAMPAI ETIKA FLOOD. KLIK UNTUK MEMBUKA.
hping3 adalah packet craft tool: alat untuk MEMBUAT dan MENGIRIM paket jaringan buatan sendiri - header TCP/UDP/ICMP bisa diatur sesukamu (flag, port sumber/tujuan, TTL, isi data, bahkan alamat sumber palsu). Sepupunya: Scapy (Python) dan nemesis.
Bedanya dengan ping dan nmap:
| ALAT | KENDALI | PAKAI UNTUK |
|---|---|---|
| ping | Nol - hanya echo ICMP | Cek hidup paling cepat |
| nmap | Sedang - port scan terstruktur | Inventaris & enumerasi layanan |
| hping3 | PAUS - setiap bit header dikendalikan | Uji firewall, DoS drill, path/MTU, IDS trigger, traceroute aneh |
Use case sah (mata pertama - admin): menguji apakah firewall benar-benar menutup port sebagaimana aturannya, menguji ketahanan server terhadap banjir SYN di LAB, menemukan MTU jalur (fragmentasi), menguji rule IDS, mengukur latency dengan flag tertentu.
Use case gelap (mata kedua - penyerang): SYN flood, UDP flood, spoofing untuk membangunkan amplifikasi, evasi IDS. Karena itu hping3 berada di Kali - dan karena itulah hukum membedakan penggunanya, bukan alatnya.
Aturan emas yang ditanamkan sejak pertama: hping3 hanya boleh diarahkan ke jaringan milikmu atau dengan izin tertulis. Drill DoS dilakukan di lab terisolasi dengan perangkat yang kamu punya. Simulator ini menjalankan semuanya virtual - nol paket keluar dari browser.
Enam bendera TCP adalah "kata kerja" paket. hping3 membiarkanmu memilih kombinasi apa pun - bahkan yang tidak pernah dikirim aplikasi normal:
| FLAG (hping) | NAMA | PERAN NORMAL |
|---|---|---|
| -S | SYN | Pembuka koneksi |
| -A | ACK | Pengakuan data / probe firewall |
| -F | FIN | Penutup koneksi rapi |
| -P | PUSH | "Kirim data sekarang" |
| -R | RST | Pembatalan paksa |
| -SA / -FA / -SAF | Kombinasi | Bisa digabung bebas di hping3 |
Kombinasi eksotis punya nama: -SF/-FP/-FPU tanpa ACK = Xmas scan (bendera menyala semua, seperti pohon Natal); tanpa flag sama sekali = Null scan. Keduanya mengandalkan celah perilaku RFC: port TERTUTUP harus menjawab RST, port TERBUKA pada stack patuh RFC akan DIAM. Inilah cara scan tanpa SYN: diam = terbuka, RST = tertutup (jika firewall tidak ikut campur).
Kenapa memilih flag penting untuk pengujian firewall: firewall yang baik harus konsisten: rule "drop SYN ke port X" tidak boleh bocor lewat FIN probe. Dengan hping3 kamu bisa MENGUJI celah itu: kirim -S (tertahan?), lalu -F (lolos?) - firewall rapuh ketahuan dalam dua perintah.
Di simulator: coba hping3 -S 192.168.10.10 -p 80 lalu hping3 -F 192.168.10.10 -p 80 dan bandingkan tingkahnya. Server lab mematuhi RFC - kamu akan melihat pola klasik di atas.
Kekuatan hping3 sebenarnya bukan mengirim - tapi MEMBACA balasan. Untuk probe SYN ke satu port, ada tiga kemungkinan jawaban:
| BALASAN | ARTI | KEPUTUSAN AUDIT |
|---|---|---|
| flags=SA (SYN-ACK) | PORT TERBUKA - layanan menerima | Ada di daftar sah? versi terbarui? |
| flags=RA (RST-ACK) | PORT TERTUTUP - host hidup, tak ada layanan | Normal - catat lanjut |
| (diam / timeout) | FILTERED - firewall membuang paket | Firewall aktif di sana - tentukan itu disengaja |
Baris output hping3 yang kamu baca:
len=46 ip=192.168.10.10 ttl=64 DF id=0 sport=80 flags=SA seq=0 win=5840 rtt=0.4 ms
- sport - port layanan yang menjawab (harus sama dengan yang kamu tuju)
- flags - SA = terbuka; RA = tertutup
- ttl - 64 khas Linux, 128 khas Windows, 255 khas perangkat jaringan - petunjuk OS
- rtt - waktu pergi-pulang; naik-turunnya menunjukkan beban/latensi
- win - window size bisa jadi fingerprint OS tambahan
UDP berbeda total: port terbuka biasanya DIAM (layanan menunggu data bermakna), port tertutup menjawab ICMP Port Unreachable. Jadi di UDP: "jawaban" justru tanda TERTUTUP, kesePIAN bisa berarti TERBUKA. Membalik intuisi TCP inilah yang membuat UDP scan terasa sulit.
Drill audit dua langkah: 1) petakan semua port: open/closed/filtered; 2) untuk setiap FILTERED, tanyakan: apakah rule firewall ini terdokumentasi? Port gelap tanpa catatan = temuan yang harus ditindaklanjuti.
-1: ICMP mode - hping3 sebagai ping super. Kamu bisa mengatur type/code, id, seq, bahkan ukuran data - dasar untuk:
- Ping dengan ukuran khusus:
-1 -d 1400- menguji MTU/fragmentasi jalur - Ping flood drill (lab):
-1 --flood- melihat beban ICMP pada server uji - Traceroute manual: naikkan TTL satu-satu dan baca pesan Time Exceeded dari tiap hop
Host yang memblokir echo request tidak menjawab - bukan berarti mati (ingat pelajaran NMAP): lalu lintas TCP bisa tetap hidup meski ICMP dibungkam.
-2: UDP mode - kirim datagram UDP ke port mana pun dengan panjang data khusus (-d). Membaca balasannya dibalik dibanding TCP:
| KONDISI PORT UDP | PERILAKU | KESIMPULAN |
|---|---|---|
| Terbuka | Umumnya DIAM (menunggu data valid) | Kemungkinan besar open |
| Tertutup | ICMP Port Unreachable | Closed - pasti |
| Firewall drop | Diam juga | Open atau filtered - tak pasti |
Kegunaan penting UDP craft: menguji apakah layanan DNS/SNMP di jaringanmu tahan terhadap datagram cacat (fuzzing ringan), dan memahami vektor UDP flood/reflection (DNS amplifikasi) SEBELUM menyebar di lab.
Di simulator: hping3 -2 192.168.10.1 -p 53 (DNS gw: DIAM = open) vs hping3 -2 192.168.10.10 -p 1234 (ICMP Port Unreachable = closed). Dua baris, dua pelajaran.
Tiga parameter mengendalikan BERAPA dan SECEPAT APA paket keluar - dan garis batas etika ada di sini:
| PARAMETER | ARTI | PAKAI UNTUK |
|---|---|---|
| -c N | Hentikan setelah N paket | Probe terukur: -c 3 cukup untuk tahu |
| -i u1000 | Jeda 1000 mikrodetik (1 ms) antar paket | Lab rapi & terukur |
| -i 10 | Jeda 10 detik | Pantauan panjang berintensitas rendah |
| --flood | Kirim SEMAKSIMALNYA tanpa balas | HANYA drill DoS di lab terisolasi |
Matematika beban: paket 60 byte pada 1.000 paket/detik = sekitar 0,5 Mbps - kecil untuk LAN modern. Tetapi SYN flood nyata berjalan ratusan ribu paket/detik dari ribuan sumber (botnet) - dan beban sebenarnya bukan bandwidth, melainkan tabel koneksi half-open server yang penuh oleh SYN yang tak pernah diselesaikan (SYN backlog).
Kenapa SYN flood efektif secara teknis: setiap SYN baru membuat server mengalokasikan memori dan menunggu ACK yang tak pernah datang. Backlog penuh -> koneksi sah pun ditolak -> layanan "down" tanpa satu byte data nyata dikirim. Pertahanan modern: SYN cookies, rate limit, sinkhole, CDN/anti-DDoS.
Drill yang benar (di lab): 1) catat baseline layanan; 2) flood ringan berdurasi 10 detik; 3) amati: koneksi sah terganggu? CPU naik? recovery cepat?; 4) pasang mitigasi (SYN cookie/limit), ulangi, bandingkan. Dokumen sebelum-sesudah itu = laporan resiliensi.
Batas hukum ditegaskan: perintah flood yang sama diarahkan ke server orang lain - bahkan "cuma 10 detik" - adalah serangan. Simulator ini menandai setiap aksi flood di LOG OBSERVASI dengan catatan hukumnya.
--rand-source membuat setiap paket keluar dengan IP sumber ACAK yang bukan milikmu; -a 1.2.3.4 memalsukannya menjadi IP tertentu. Server yang menerima SYN palsu akan membalas SYN-ACK... ke alamat palsu itu - bukan kepadamu.
Konsekuensi teknis langsung: kamu TIDAK PERNAH menerima balasan (muncul 0% received di statistik). Balasan itu terbang menuju "korban" alamat palsu - jika ribuan host melakukan ini ke satu target, itu DDoS reflektif.
Tiga kegunaan (dua baik, satu buruk):
- Baik - uji anti-spoofing firewall: rule yang benar harus MEMBUANG paket dari luar yang mengaku datang dari rentang internal (ingress filtering RFC 2827). Kirim paket spoofed dari luar -> harusnya di-drop. Simulator lab ini memeriksa persis itu.
- Baik - memahami IDLE scan (konsep): teknik klasik memakai host "zombie" yang kalian biarkan idle; attacker mengamati perubahan IP ID zombie untuk membaca port target tanpa pernah mengirim paket bernama sendiri. Pahami konsepnya di teori - praktiknya hanya di lab.
- Buruk - penyamaran serangan: menyembunyikan sumber asli flood. Ini inti DDoS modern dan 100% pidana.
Kenapa ISP modern menghambat: banyak ISP menerapkan egress filtering - paket dengan sumber di luar rentang pelanggan dibuang. Itu sebabnya spoof dari rumah sering "tidak jalan" - dan syukurlah begitu.
Di simulator: jalankan hping3 -S --rand-source 192.168.10.10 -p 80 -c 5. Lihat: 5 terkirim, 0 diterima, dan LOG OBSERVASI menjelaskan ke mana balasannya "pergi".
Nilai hping3 terbesar bagi murid TKJ yang berorientasi kerja: menjadi pengujis keamanan jaringanmu sendiri. Empat resep siap pakai:
1. AUDIT RULE FIREWALL - firewall mengaku "port X ditutup untuk luar". Buktikan:
- Dari sisi luar:
hping3 -S <ip> -p X -c 3-> harus diam (drop) atau RST (reject) - Coba celah flag:
hping3 -F <ip> -p X,hping3 -A <ip> -p X-> hasilnya harus KONSISTEN - SYN dibuang tapi FIN lolos = rule lubang - temuan!
2. UJI ANTI-SPOOFING - kirim dari "luar" dengan sumber IP internal: harus di-drop. Kalau lolos, jaringanmu bisa dipakai refleksi.
3. DRILL RESILIENSI DoS - baseline -> flood terukur (durasi pendek) -> amati degradasi -> pasang mitigasi (SYN cookie, rate limit) -> uji ulang. Hasil: dokumen "layanan bertahan X pps sebelum degradasi" - nilai nyata untuk proposal keamanan sekolah.
4. DIAGNOSA MTU/PATH - ping dengan ukuran data naik-turun (-1 -d 1400/1472/1500) menemukan batas MTU jalur - penyebab misterius "beberapa situs tidak bisa dibuka" yang kerap muncul di lab.
Metodologi laporan: setiap pengujian dicatat (perintah persis, waktu, harapan, hasil). Tabel ekspektasi-vs-hasil adalah inti laporan audit - dan kebiasaan yang membuatmu dipercaya menangani perangkat orang lain.
Kerangka hukum Indonesia: UU ITE Pasal 29-30 melarang akses & intersepsi tanpa hak; mengirimkan flood yang melumpuhkan layanan dapat dikualifikasi perusakan sistem (Pasal 33). "Cuma tes", "cuma 5 menit", "targetnya teman" - TIDAK menghapus unsur tanpa hak. Pengujian yang sah selalu punya: izin tertulis + scope + jadwal + kontak darurat (Rules of Engagement).
Sentral hukum alat: hping3 itu legal dimiliki dan dipelajari - Kali membawanya default. Yang dihukum adalah AKSI terhadap sistem orang lain tanpa otorisasi. Bedakan alat dari tindakan - pemahaman ini yang membedakan profesional dari anonimus yang tertangkap.
Amunisi latihan yang 100% legal:
- VM sendiri: Kali meng-hping3 Ubuntu/Windows di VirtualBox internal network
- Server lab pribadi / VPS milikmu
- Lab sekolah dengan izin guru - di jendela waktu yang disetujui
- Simulator ini - kapan saja, tanpa izin siapa pun, karena semuanya virtual
Jalan carier: keterampilan packet crafting + pembacaan jawaban adalah fondasi peran SOC Analyst, Firewall/Network Engineer, dan Junior Pentester. Jalur sertifikasi: CompTIA Network+/Security+ -> eJPT -> PNPT/OSCP. Semua dimulai dari kemampuan yang kamu latih di sini - pada target yang sah.
Ikrar teknisi: kuasai alat pada lab-mu, pakai kekuatannya untuk memperkuat, dan tuliskan setiap aksi. Yang tak terdokumentasi dianggap tidak pernah dilakukan - dan yang dilakukan tanpa izin dihitung sebagai serangan.
TIPS CRAFTING
10 TIPS BERJENJANG: BASIC -> INTER -> PRO.
FAQ HPING3
10 PERTANYAAN YANG PALING SERING MUNCUL DI KELAS & LAB TKJ.
Ping: satu tugas (ICMP echo), tanpa kendali. Nmap: scanner terstruktur - memilih jenis scan, mengelola output port. hping3: tingkat kendali mentah - kamu menyusun header sendiri (flag apa, port sumber berapa, ukuran data, TTL, bahkan sumber palsu). Gunakan ping untuk cek cepat, nmap untuk inventaris, hping3 saat butuh paket SPESIFIK yang tidak bisa dibuat keduanya (uji firewall per-flag, flood terukur, MTU).
Karena balasan ditujukan ke alamat SUMBER paket - dan sumbernya kamu palsukan. SYN-ACK dari target terbang menuju IP acak itu, bukan ke komputermu. Justru inilah pelajaran terpentingnya: spoofing membuatmu buta terhadap jawaban, dan jika ribuan mesin melakukannya ke satu target, balasan-balasan itulah yang menjadi senjata (refleksi). Di firewall yang menerapkan anti-spoofing, paket palsumu bahkan dibuang sebelum sempat sampai.
SA (SYN-ACK) = port terbuka - layanan menerima permintaan koneksi. RA (RST-ACK) = port tertutup - host hidup tapi tak ada layanan di situ, dan ia menolak dengan rapi. Diam total (timeout) = filtered - firewall membuang paketmu. Tiga kondisi ini adalah alphabet audit port di hping3.
UDP tidak punya handshake. Layanan UDP menerima datagram lalu - jika isinya bukan protokol yang dikenal - diam saja menunggu data valid. Hanya port yang TERTUTUP yang memicu OS mengirim ICMP Port Unreachable. Akibatnya untuk UDP: jawaban = pasti closed; diam = open ATAU filtered (tak bisa dibedakan dari luar). Inilah kenapa scan UDP lebih lambat dan sering menyimpulkan open|filtered seperti di NMAP.
Keduanya mengirim paket SYN dan menafsirkan SYN-ACK/RST/diam dengan logika sama. Bedanya: NMAP mengelola seluruh siklus scan (pemilihan port populer, paralel, output rapi) sedangkan hping3 menempatkanmu satu level lebih rendah - kendali penuh per paket. Nmap untuk hasil, hping3 untuk pemahaman dan paket yang tidak standar.
Karena kemampuan --flood + spoofing-nya persis seperti cara kerja DoS/DDoS: banjir SYN mehabiskan backlog koneksi, banjir UDP/ICMP menghabiskan bandwidth, spoofing menyembunyikan penyerang. Alatnya netral - drill ketahanan di lab juga memakai perintah sama. Yang salah adalah TARGETNYA: jaringan tanpa izin. Di lab milikmu, semua perintah ini sah dan justru dianjurkan.
Hanya dengan izin pengelola, durasi terukur, dan pada perangkat lab yang memang dialokasikan untuk itu - BUKAN router/jaringan utama sekolah. Banjir paket menaikkan beban switch/UPs dan bisa mengganggu ujian online. Alternatif terbaik: jaringan terisolasi di VirtualBox (internal network) - efeknya identik untuk belajar, risikonya nol.
Drill DoS = simulasi serangan yang TERKENDALI terhadap sistem milik sendiri untuk mengukur titik lemah dan menguji mitigasi: berapa paket per detik sebelum layanan degradasi? Apakah SYN cookie aktif menolong? Apakah alert IDS berbunyi? Seperti pemadaman kebakaran latihan - api aslinya disimulasikan, pelajarannya nyata. Tanpa drill, mitigasi hanya teori di atas kertas.
Resep aman: 1) VirtualBox - dua VM (Kali + Ubuntu) di internal network; 2) dari Kali: hping3 -S <ip-ubuntu> -p 22 -c 3 dan baca balasannya; 3) pasang ufw di Ubuntu, ulangi, bandingkan (kini filtered); 4) uji anti-spoof dengan -a <ip-palsu>. Semua di mesin milikmu sendiri - belajar penuh tanpa menyentuh siapa pun. Router rumah boleh juga karena itu milikmu.
Ya - misi selesai, XP, total paket virtual yang kamu kirim, dan skor kuis tersimpan di localStorage perangkat ini (prefix abr_hpg_). Tidak ada data yang keluar dari browser. Log observasi sengaja didesain seperti laporan audit: setiap aksi flood/spoof tercatat dengan anotasinya - kebiasaan dokumentasi adalah bagian dari keterampilan yang dilatih.