NETWORK SPEED TEST
TOOL UJI KECEPATAN + MATERI, TIPS & FAQ UNTUK SISWA TKJ
SPEED TEST
MESIN UJI: HTTP/TCP VIA CLOUDFLARE EDGE - SATU KLIK, TIGA FASE
MATERI TKJ
7 MODUL - DARI SATUAN DASAR SAMPAI CARA KERJA SPEEDTEST. KLIK MODUL UNTUK MEMBUKA.
Tiga istilah yang sering tertukar - dan ini favorit soal ujian:
- BANDWIDTH - kapasitas teoretis maksimal jalur. Angka yang dijanjikan ISP dan ditentukan media (kabel/fiber/wifi).
- THROUGHPUT - data aktual yang berhasil lewat setelah overhead, retransmisi, dan kondisi jaringan nyata.
- GOODPUT - payload aplikasi murni (file yang benar-benar tersimpan), tanpa header protokol.
Urutan selalu: GOODPUT <= THROUGHPUT <= BANDWIDTH. ISP menjual bandwidth; yang kamu rasakan adalah goodput.
Satuan: bit vs Byte. Kecepatan pakai bit per detik (b kecil), ukuran file pakai Byte (B besar). 1 Byte = 8 bit. Itulah kenapa 100 Mbps TIDAK sama dengan 100 MB/s - bagi 8 dulu.
| KECEPATAN | MB/S TEORETIS | FILE 700 MB SELESAI DALAM |
|---|---|---|
| 1 MBPS | 0,125 MB/S | Sekitar 93 menit |
| 10 MBPS | 1,25 MB/S | Sekitar 9,3 menit |
| 25 MBPS | 3,1 MB/S | Sekitar 3,7 menit |
| 50 MBPS | 6,25 MB/S | Sekitar 1,9 menit |
| 100 MBPS | 12,5 MB/S | Sekitar 56 detik |
Rumus wajib hafal: Waktu (detik) = Ukuran File (MB) x 8 / Kecepatan (Mbps). Contoh: ISO 4,7 GB = 4700 MB, di jalur 25 Mbps -> 4700 x 8 / 25 = 1504 detik = sekitar 25 menit.
Tambahan: perhitungan di atas pakai perkalian desimal (1 Mbps = 1.000.000 bit/s). Dunia penyimpanan pakai biner (1 MiB = 1.048.576 Byte) - makanya kapasitas flashdisk "terlihat berkurang".
Latency (delay) = waktu tempuh paket pulang-pergi (RTT), satuan milidetik. Koneksi 1 Gbps bisa tetap terasa lambat jika latency tinggi - bandwidth dan latency adalah dua sumbu berbeda.
Empat komponen latency: propagation (jarak dibagi kecepatan sinyal), serialization (waktu menumpangkan bit ke jalur), processing (router membaca header), queuing (antrean saat jalur penuh).
Jitter = variasi latency antar paket. Rumus praktis: rata-rata dari |ping[n] - ping[n-1]| sepanjang sesi. Jitter besar = arus paket tidak stabil.
Packet loss = paket hilang di jalan. Penyebab: congestion, kabel rusak, konektor kotor, duplex mismatch. TCP harus retransmit -> throughput runtuh. UDP (VoIP) tidak retransmit -> suara putus-putus.
| APLIKASI | PING MAKS | JITTER MAKS | LOSS MAKS |
|---|---|---|---|
| BROWSING / CHAT | 150 MS | - | 3% |
| VIDEO CALL | 150 MS | 30 MS | 1% |
| GAMING KOMPETITIF | 50 MS | 15 MS | 1% |
| VOIP / SIP | 150 MS | 30 MS | 2% |
Bufferbloat - penyakit yang jarang diajarkan: buffer router terlalu besar; saat link penuh, ping bisa meledak dari 20 ms ke 500+ ms padahal speedtest terlihat normal. Solusi modern: QoS SQM dengan fq_codel atau CAKE.
Alat ukur CLI yang wajib dikuasai: ping, tracert (Windows) / traceroute (Linux), pathping, mtr.
Kecepatan dibatasi oleh media yang paling lambat di jalur. Kabel tembaga UTP tetap menjadi standar praktik lab TKJ - kategorinya menentukan segalanya.
| KABEL | BANDWIDTH KABEL | KECEPATAN | JARAK MAKS |
|---|---|---|---|
| CAT5 | 100 MHZ | 100 MBPS | 100 M |
| CAT5E | 100 MHZ | 1 GBPS | 100 M |
| CAT6 | 250 MHZ | 1 GBPS (10G S/D 55M) | 100 M |
| CAT6A | 500 MHZ | 10 GBPS | 100 M |
| CAT7 | 600 MHZ | 10 GBPS SHIELDED | 100 M |
Wiring T568B (standar paling umum): putih-oranye, oranye, putih-hijau, biru, putih-biru, hijau, putih-coklat, coklat. Kabel straight untuk perangkat berbeda jenis (PC -> switch), crossover untuk sesama (PC -> PC). Kabar baik: NIC modern punya Auto-MDI-X, urutan salah pun tetap jalan.
Fiber optik: MMF (850 nm, OM3/OM4, ratusan meter - gedung/lampus) vs SMF (1310/1550 nm, puluhan kilometer - backbone ISP). Konektor populer: SC dan LC. Fiber imun terhadap EMI - alasan utama dipakai di area industri.
| STANDAR | NAMA PASAR | TEORETIS | REALISTIS |
|---|---|---|---|
| 802.11N | WIFI 4 | 600 MBPS | 50-150 MBPS |
| 802.11AC | WIFI 5 | Sekitar 6,9 GBPS | 200-600 MBPS |
| 802.11AX | WIFI 6 | Sekitar 9,6 GBPS | 400-900 MBPS |
Aturan praktis WiFi: angka realistis hanya 40-60% dari label. Faktor: jarak, dinding (terutama beton), interferensi 2,4 GHz (microwave, bluetooth, tetangga), dan pembagian waktu antar semua klien di channel yang sama.
| PERANGKAT | LAYER OSI | COLLISION DOMAIN | CATATAN |
|---|---|---|---|
| HUB | L1 | 1 UNTUK SEMUA PORT | Legacy - jangan dipakai |
| SWITCH | L2 | PER PORT | MAC table, full duplex |
| ROUTER | L3 | PER INTERFACE | Routing + NAT antar network |
Duplex mismatch (satu sisi half, satu sisi full) - gejala klasik: link up tapi performa buruk, paling terasa saat upload. Cek dengan show interface (Cisco) atau ethtool eth0 (Linux). Pastikan negosiasi 1 GBPS FULL DUPLEX.
Hukum bottleneck: throughput jalur = link TERKECIL di sepanjang path. Contoh skema lab: Internet 100M -> router WAN 100M -> switch gigabit -> laptop via WiFi4 (150M teoretis, 90M real). Hasil maksimal? Sekitar 90M - dibatasi WiFi, bukan paket internet.
Pembagian bandwidth: 30 klien pada AP WiFi4 1 stream (150 Mbps) = sekitar 5 Mbps per klien saat ramai. Ini dasar perencanaan kapasitas lab: hitung jumlah klien x kebutuhan per klien, lalu pastikan jalur terkecil cukup.
Jangan lupa: switch memecah collision domain (per port) tapi broadcast domain tetap satu - kecuali kamu buat VLAN. Itu sebab jaringan rata (flat) penuh broadcast jadi lambat.
Model OSI mengirim data berlapis: Data -> Segment (L4) -> Packet (L3) -> Frame (L2) -> Bit (L1). Setiap lapis menambah header - dan header adalah bandwidth yang terpakai tanpa membantu aplikasi.
Overhead TCP/IP over Ethernet: TCP 20 B + IP 20 B = 40 B per segmen. Frame juga butuh preamble 8 B, header Ethernet 14 B, FCS 4 B, dan IFG 12 B.
MTU default Ethernet 1500 byte, sehingga MSS = 1460. Efisiensi = 1460/1538 = sekitar 94,9%. Dari bandwidth 100 Mbps, goodput teori sekitar 94,9 Mbps; praktik nyata 88-95 Mbps setelah retransmisi dan kondisi jalur.
TCP slow start: koneksi baru mulai pelan lalu kecepatannya naik saat congestion window tumbuh. Inilah alasan speedtest mengirim beberapa chunk: chunk awal "menghangatkan" TCP, sisanya yang diukur penuh.
TCP vs UDP: TCP andal (ACK, retransmit, urutan) tapi berat; UDP ringan tanpa jaminan. Speedtest, HTTP, transfer file = TCP. Streaming live, VoIP, game = UDP. Tool ini mengukur via HTTP/TCP - jadi hasilnya mewakili kinerja unduhan web nyata.
Bandwidth terbatas dan mahal -> harus diatur siapa yang diprioritaskan. QoS memastikan VoIP dan video call tidak kalah oleh download besar.
- FIFO - tanpa QoS; yang datang duluan dilayani duluan.
- CBQ / HTB - pembagian berbasis kelas/hirarki.
- SFQ - keadilan antar klien secara acak.
- FQ_CODEL / CAKE - anti bufferbloat, standar modern.
Shaping = kelebihan data diantrekan (halus, tapi latency naik). Policing = kelebihan langsung dibuang (drop -> TCP retransmit). Untuk kualitas, shaping umumnya lebih baik.
Contoh Simple Queue di MikroTik (materi sertifikasi TKJ):
/queue simple add name=lab01 target=192.168.10.11/32 max-limit=3M/3M
Artinya PC 192.168.10.11 dibatasi 3 Mbps upload / 3 Mbps download. Fitur Burst memberi kecepatan ekstra singkat saat link sedang idle - terasa cepat tanpa merusak kapasitas total.
Kasus lab 30 PC dengan bandwidth 100 Mbps: tanpa QoS, satu PC yang mendownload bisa melahap semuanya. Solusi: queue per PC 3M, atau mangle + queue tree per kelas layanan (misal ujian online diprioritaskan tinggi).
Prinsip dasar speedtest HTTP: kecepatan = jumlah byte yang berhasil ditransfer / waktu. Tool ini bekerja dalam tiga fase: 1 probe pemanasan + 8 ping terukur; lalu beberapa chunk download (2-50 MB) hingga sekitar 6 detik; lalu upload 1-4 MB bertahap.
Kenapa multi-chunk? Satu file besar membuat hasil condong oleh slow start; banyak chunk meratakan kondisi TCP dan memberi sampel grafik yang stabil.
Hasil dipengaruhi oleh: jarak & lokasi server, teknologi akses (fiber vs wireless), WiFi vs kabel, aktivitas perangkat lain di jaringan, jam sibuk (19.00-23.00), VPN/proxy/adblocker, dan kondisi perangkat itu sendiri.
Kenapa angka beda antar tool? Server berbeda (peering dan jarak berbeda), metode berbeda (jumlah koneksi paralel), ukuran data berbeda. Solusi ilmiah ala teknisi: kontrol kondisi tes - tool sama, server sama, kabel, jam yang mirip - lalu bandingkan trennya.
Tool ini memakai server edge Cloudflare yang biasanya sangat dekat dari pengguna (jarak pendek = ping kecil), dengan metode HTTP/TCP. Konsumsi data sekitar 20-150 MB per tes penuh - sadari kuota sebelum mengulang berkali-kali.
TIPS OPTIMASI
10 TIPS BERJENJANG: BASIC -> INTER -> PRO. URUTAN MENGIKUTI ALUR DIAGNOSA TEKNISI.
FAQ SPEED TEST
9 PERTANYAAN YANG PALING SERING MUNCUL DI KELAS & LAB.
Normal dan sesuai teori M05. Overhead protokol memakan 3-6%, ditambah kondisi jaringan saat itu. Throughput nyata 85-95% dari bandwidth adalah sehat. Jika hasil di bawah 60% terus-menerus: cek kabel dan negosiasi duplex dulu, baru klaim ke ISP.
bit (b kecil) dipakai untuk kecepatan transfer, Byte (B besar) untuk ukuran file. 1 Byte = 8 bit, jadi 25 Mbps = 3,125 MB/s. ISP memakai bit agar angkanya terlihat 8x lebih besar - trik pemasaran klasik yang wajib kamu pahami sebagai calon teknisi.
Tidak untuk jarak nyata. Sinyal punya batas kecepatan cahaya; 1 km fiber saja butuh sekitar 5 mikrosekon satu arah, ditambah processing di setiap hop. Ping di bawah 5 ms biasanya berarti server sangat dekat (CDN/edge) - seperti server Cloudflare yang dipakai tool ini.
WiFi adalah media udara: half-duplex (kirim-dengar bergantian), overhead radio (beacon, ACK, retransmit), interferensi, dan bandwidth dibagi semua klien. Kabel full-duplex dan terinstalasi. Anggap WiFi hanya 40-60% dari labelnya (lihat tabel M03).
Browsing didominasi latency dan DNS, bukan bandwidth. Memuat 20 request kecil dengan RTT 50 ms bisa lebih lambat daripada 1 file besar di jalur 100 Mbps. Solusi: DNS cepat, HTTP/2/3, cache, dan kurangi hop. Bandwidth tinggi tidak menyembuhkan latency tinggi.
Ya. Tes penuh memakai sekitar 20-150 MB tergantung kecepatan - makin cepat koneksi, makin banyak data yang diunduh dalam durasi uji. Mode PING SAJA hampir gratis (di bawah 100 KB). Hati-hati jika memakai kuota terbatas; angka konsumsi aktual ditampilkan di halaman hasil.
Jam 19.00-23.00 adalah peak time: pelanggan ISP di segmen yang sama ikut memakai bandwidth (shared bandwidth). Congestion menaikkan latency dan menurunkan throughput. Lakukan perbandingan off-peak (pagi) vs peak - itu data diagnostik yang bernilai.
Pastikan: internet aktif; firewall/proxy tidak memblokir domain speed.cloudflare.com; adblocker tidak membuang request uji. Tool ini butuh akses CORS ke server Cloudflare - beberapa jaringan sekolah/kantor memblokirnya. Coba hotspot ponsel untuk membandingkan.
Bisa sebagai data pendukung jika memenuhi syarat: metode konsisten (tool + server sama), kabel langsung tanpa WiFi, diulang berkali-kali di jam berbeda, dan terdokumentasi. Gunakan tombol SALIN HASIL + halaman RIWAYAT sebagai bukti. Untuk sengketa resmi, regulator mengacu pada pengujian terakreditasi.
RIWAYAT TES
12 TES TERAKHIR - TERSIMPAN LOKAL DI PERANGKAT INI (LOCALSTORAGE).